HEADLINE: Soal Yerusalem, Donald Trump Menabuh Genderang Perang?

Berita Menarik Bola International

Boladw88.comAmerika Serikat menjadi negara pertama di dunia yang mengakui Yerusalem, secara keseluruhan, sebagai ibu kota Israel — hanya milik negeri zionis itu. Sudah banyak pihak yang mengecam dan memberikan peringatan, namun Donald Trump bergeming.

“Hari ini, akhirnya kita mengakui hal yang jelas: bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel,” kata dia saat berpidato di Diplomatic Reception Room, Gedung Putih, seperti dikutip dari New York Times.

Deklarasi pengakuan tersebut kemudian akan dilanjutkan dengan pemindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem. Hal tersebut sesuai dengan keputusan Kongres AS pada 1995, namun dengan berbagai pertimbangan, para pendahulu Trump memilih tak melakukannya.

Selama ini Israel menguasai Yerusalem Barat, dan terus memperluas aneksasinya, sementara pihak Palestina menganggap Yerusalem Timur sebagai ibu kota masa depan.

Entah apa di balik keputusan sang miliarder nyentik. Sejumlah berpendapat, Trump sedang melaksanakan janji kampanyenya. Agar para pendukungnya yang pro-Israel puas.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tentu saja bakal senang dibuatnya. Sementara pemimpin dunia lain cemas bukan kepalang. Sebab, akibatnya bisa jadi fatal.

“Donald Trump sedang menyulut perang di Timur Tengah. Ia mendeklarasikan perang terhadap 1,5 miliar Muslim dan ratusan juta umat Nasrani yang tak akan menerima kota suci itu berada di bawah hegemoni Israel,” kata Diplomat Palestina untuk Inggris, Manuel Hassassian, seperti dikuti Independent, Rabu (6/12/2017).

Raja Abdullah dari Yordania menyatakan hal senada. Ia menilai, apa yang dilakukan Trump akan menyakiti hati umat Islam dan Kristiani. Sementara, Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al Saud mengatakan, keputusan miliarder nyentrik itu akan memprovokasi Muslim di seluruh dunia. Kecaman keras juga datang dari Iran.

Sementara itu dari Vatikan, Paus Fransiskus mengatakan, ‘status quo’ terkait Yerusalem harus dihormati. “Dialog hanya akan mungkin dilakukan dengan mengakui hak semua orang di wilayah tersebut, kata seperti dikutip dari BBC. Pemimpin umat Katolik dunia itu meminta semua pihak bijaksana. Demi mencegah pertumpahan darah.

Ketika konflik sampai pecah, damai pun kian menjauh dari Yerusalem, juga Timur Tengah dan dunia. Langkah perdamaian melalui solusi dua negara (two states solution) niscaya kembali mentah.

“Apa yang dilakukan oleh Donald Trump akan menghancurkan proses perdamaian secara utuh,” kata penasihat kepresidenan Palestina Mahmoud Habash, yang berbicara mewakili Presiden Mahmoud Abbas. “Dunia akan membayar mahal harganya.”

Dalam pembicaraan telepon dengan Donald Trump, Presiden Prancis Emmanuel Macron menekankan bahwa status Yerusalem harus ditentukan sebagai bagian dari solusi dua negara.

“Warga Israel dan Palestina hidup berdampingan dengan damai dan aman, dengan Yerusalem sebagai ibu kota mereka,” kata Macron, dalam pernyataan yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri Prancis seperti dikutip dari NPR.

Predikat Yerusalem bukan hanya wilayah yang disengketakan. Ia adalah kota suci bagi tiga agama — Islam, Kristen, dan Yahudi. Situs-situs suci berada di sana, terutama di Yerusalem Timur.

Israel menganeksasi Yerusalem Timur usai Perang Enam Hari pada 1967. Negara itu secara sepihak mengklaim Yerusalem secara utuh sebagai ibu kotanya yang ‘abadi’.

Negeri zionis telah membangun selusin permukiman, rumah bagi sekitar 200.000 orang Yahudi di Yerusalem Timur. Itu dianggap ilegal menurut hukum internasional, namun Israel tak mau mendengar.

Kedaulatan Israel atas Yerusalem tidak pernah diakui secara internasional dan semua negara memilih mempertahankan kedutaan mereka di Tel Aviv.

Dengan mengakui kota suci itu sebagai ibukota Israel, AS akan memperkuat dalih sekutunya itu yang mengklaim bahwa permukiman di Yerusalem Timur adalah tempat tinggal bagi komunitas negeri zionis yang sah.

Keputusan Donald Trump juga membahayakan para diplomatnya. Departemen Luar Negeri AS dilaporkan memperingatkan kedutaan besarnya di seluruh dunia untuk meningkatkan keamanan menjelang pengumuman yang akan dikeluarkan presidennya itu.

Direktur kebijakan Israel Policy Forum Michael Koplow berpendapat, risiko gelombang kekerasan yang dipicu aksi simbolis AS terpampang nyata.

“Tidak ada yang perlu dipertanyakan lagi, hal itu akan mengakibatkan kekacauan dan kerusuhan di suatu tempat,” tulis Koplow di blog pribadinya.

“Apakah mengeluarkan pernyataan simbolis mengenai status Yerusalem dan pemindahan kedutaan lebih bernilai dari nyawa seorang warga Amerika, Israel, atau Palestina?,” kata dia seperti dikutip dari Business Insider.

Koplow menambahkan, bahkan tak ada properti siapa pun dan di mana pun yang layak rusak gara-gara kebijakan Donald Trump itu.

“Apakah itu masih dianggap layak jika PLO menindaklanjuti ancamannya untuk menarik pengakuannya terhadap Israel, atau menghentikan kerja sama keamanan yang mencegah terorisme dan roket dari Tepi Barat?”

Ia menilai, keamanan Yerusalem dan keselamatan semua orang lebih berharga dari kebijakan seorang Donald Trump — apapun alasannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *